Kamis, 14 Januari 2016

Penyebab Mengapa Anak Putus Sekolah


Putus sekolah bukan merupakan salah satu permasalahan pendidikan yang tak pernah berakhir. Masalah ini telah berakar dan sulit untuk dipecahkan penyebabnya, tidak hanya karena kondisi ekonomi, tetapi ada juga yang disebabkan oleh kekacauan dalam keluarga, dan lain-lain. Pendidikan nasional merupakan bagian dari pembangunan nasional, melalui Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 dikatakan bahwa tujuan pendidikan adalah:
”Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
  Saat ini khususnya di masyarakat kota banyak sekali anak-anak yang tidak bersekolah dan mereka tinggal dijalanan. Anak-anak yang tinggal di jalan atau biasa kita sebut anak jalanan, dimana mereka mengalami masalah keterputusan sekolah. Masalah keterputusan sekolah ini disebabkan oleh berbagai fakto, salah satunya faktor ekonomi.
Banyak anak-anak yang seharusnya mereka bermain dan duduk dibangku sekolah, justru mereka malah bekerja di pinggir jalan. Phenomena yang tidak aneh bila kita berada dikota-kota besar. Banyak anak yang seharusnya sekolah malah bekerja. Bahkan diperparah dengan phenomena anak jalanan.
Upaya pencegahan yang harus dilakukan sebelum putus sekolah dengan mengamati, memperhatikan permasalahan-permasalahan anak-anak dan dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan demi menjamin masa depan anak serta memberikan motivasi belajar kepada anak. Adapun upaya pembinaan yang dilakukan adalah dengan mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan sosial kemasyarakatan kepada anak, serta memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya supaya anak disibukkan serta dapat menghindarinya dari pikiran yang menyimpang.

  Putus sekolah diartikan sebagai Drop-Out (DO) yang artinya bahwa seorang anak didik yang telah masuk dalam sebuah lembaga pendidikan baik itu pada tingkat SD, SMP, maupun SMA untuk belajar dan menerina pelajaran tetapi tidak sampai tamat atau lulus kemudian mereka berhenti atau keluar dari sekolah. Hal itu bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa disebabkan karena malu, malas, takut, sekedar ikut-ikutan dengan temannya atau karena alasan lain sehingga mereka putus sekolah ditengah jalan atau keluar dan tidak lagi masuk untuk selama-lamanya.
Anak putus sekolah adalah keadaan dimana anak mengalami keterlantaran karena sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak tanpa memperhatikan hak – hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Dalam Undang – Undang nomor 4 tahun 1979, anak terlantar diartikan sebagai anak yang orang tuanya karena suatu sebab, tidak mampu memenuhi kebutuhan anak sehingga anak menjadi terlantar.Sedangkan menurut Undang – Undang nomor 23 tahun 2002 bahwa anak terlantar yakni anak yang kebutuhannya tidak terpenuhi secara wajar, baik kebutuhan fisik, mental, spiritual maupun social. Pengertian lainnya menurut Departemen Pendidikan di Amerika Serikat (MC Millen Kaufman, dan Whitener, 1996) mendefinisikan bahwa anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak tamat menyelesaikan program belajarnya.
Anak putus sekolah ialah anak yang dimana seharusnya ia mengecap pendidikan atau duduk dibangku sekolah akan tetapi dikarenakan berbagai faktor ia tidak dapat menyelesaikan program belajarnya hingga tuntas. Anak-anak putus sekolah seharusnya mendapat perhatian besar dari pemerintah dikarenakan mereka adalah generasi penerus bangsa, yang seharusnya mendapatkan hak bersekolah dan dimana kemampuan mereka dan keinginan mereka dikembangkan agar mereka dapat hidup sejahtera dikemudian hari.
 
 
SOLUSI 
Persoalan putus sekolah merupakan tantangan bagi pekerja sosial. Data dari susenas menyebutkan ratusan ribu pelajar terancam putus sekolah, mereka berasal dari keluarga miskin. Anak usia sekolah dari keluarga miskin inilah yang potensial keluar dari bangku sekolah sebelum mengantongi ijazah.
Secara umum cara pelayanan anak-anak yang dikategorikan bermasalah seperti anak putus sekolah, anak terlantar, anak jalanan, dan anak dalam situasi khusus, dapat dilakukan melalui 2 sistem pelayanan sosial, yakni sistem panti dan sistem luar panti.
·         Sistem pelayanan dalam panti
Cara pelayanan sosial dilakukan melalui instutisi pemerintah maupun swasta dengan memberi pelayanan guna memenuhi seluruh kebutuhan dasar baik fisik maupun psikisnya meliputi pelayanan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, rekreasi, kesehatan dan sebagianya. Pelayanan ini diarahkan pada terjadinya proses pembelajran sebagaimana layaknya pendidikan dalam keluarga yang utuh karena panti merupakan institusi yang berperan sebagai keluarga pengganti.
·         Sistem pelayanan diluar panti
Pelayanan ini menitik beratkan pada cara pelayanan sosial yang berbasiskan masyarakat bagi anak diluar panti yang bersifat mengganti, memperkuat, dan melengkapi pelayanan sistem panti. Khususnya bagi anak-anak jalanan yang bentuk pelayanannya seperti rumah singgah dan mobil sahabat anak.

KESIMPULAN

  Penyebab timbulnya fenomena anak jalanan di kota-kota jika dilihat dari faktor makro dikarenakan strategi pembangunan yang lebih mengarah pada industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi yang berpusat disekitar kota. Hal ini menimbulkan berbagai ketimpangan ekonomi baik antar daerah maupun antar pelaku ekonomi. (Saripudin:154, 2010). Pertumbuhan ekonomi dikota dan desa sangat mencolok pebedaannnya, dimana pada masyarakat kota terlihat lebih maju, modern  dan terlihat lebih menguntungkan dalam hal ekonomi. Karena hal ini banyak masyarakat dari desa yang berdatangan dalam skala besar ke kota-kota besar, dalam rangka mengadu nasib karena kota dianggap lebih menguntungkan dan menjanjikan bagi masa depan mereka secara individu maupun keluarga.
            Untuk memperoleh pekerjaan yang baik dikota, pendidikan merupakan faktor utama yang diperhitungkan. Akan tetapi orang-orang yang datang dari desa ini kebanyakan merupakan orang yang tidak memiliki pendidikan yang cukup dan memadai, mimpi yang diangankan pun menjadi hal yang sangat sulit untuk tercapai bagi mereka. Akibatnya, mereka tinggal di perkampungan yang kumuh di lingkungan masyarakat miskin. Sebagian dari mereka enggan kembali ke kampung karena rasa malu yang kuat, takut orang di kampungnya mengejeknya. Sehingga mereka tetap tinggal di kota dalam perkampungan kumuh sampai mereka berkeluarga yang kemudian hal ini berperan besar dalam tumbuhnya anak jalanan.
 Faktor atau penyebab putusnya sekolah bukan saja hanya faktor perekonomoian tetapi sosok orang tua pula harus menonjol dan memperhatikan pada anaknya dan pendidikan anak terutama, karena anak butuh sekali figue orang tua yang benar-benar memperhatikan keadaan anaknya, pendidikan serta kepribadian anaknya karena orang tua lah yang mengetahui sifat dan karakter anak-anaknya bukan orang lain.
sekian..
semoga bermanfaat pemirsa yang membaca blog saya :)
semangat para generasi muda..