Penyebab Mengapa Anak Putus Sekolah
Putus
sekolah bukan merupakan salah satu permasalahan pendidikan yang tak pernah
berakhir. Masalah ini telah berakar dan sulit untuk dipecahkan penyebabnya,
tidak hanya karena kondisi ekonomi, tetapi ada juga yang disebabkan oleh
kekacauan dalam keluarga, dan lain-lain. Pendidikan nasional merupakan bagian dari pembangunan
nasional, melalui Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 dikatakan bahwa tujuan
pendidikan adalah:
”Untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,
yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan”.
Saat ini khususnya di
masyarakat kota banyak sekali anak-anak yang tidak bersekolah dan mereka
tinggal dijalanan. Anak-anak yang tinggal di jalan atau biasa kita sebut anak
jalanan, dimana mereka mengalami masalah keterputusan sekolah. Masalah
keterputusan sekolah ini disebabkan oleh berbagai fakto, salah satunya faktor
ekonomi.
Banyak anak-anak yang
seharusnya mereka bermain dan duduk dibangku sekolah, justru mereka malah
bekerja di pinggir jalan. Phenomena yang tidak aneh bila kita berada dikota-kota
besar. Banyak anak yang seharusnya sekolah malah bekerja. Bahkan diperparah
dengan phenomena anak jalanan.
Upaya pencegahan yang
harus dilakukan sebelum putus sekolah dengan mengamati, memperhatikan
permasalahan-permasalahan anak-anak dan dengan menyadarkan orang tua akan
pentingnya pendidikan demi menjamin masa depan anak serta memberikan motivasi
belajar kepada anak. Adapun upaya pembinaan yang dilakukan adalah dengan
mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan sosial kemasyarakatan kepada anak, serta
memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya supaya anak disibukkan
serta dapat menghindarinya dari pikiran yang menyimpang.
Putus sekolah diartikan
sebagai Drop-Out (DO) yang artinya bahwa seorang anak didik yang telah masuk
dalam sebuah lembaga pendidikan baik itu pada tingkat SD, SMP, maupun SMA untuk
belajar dan menerina pelajaran tetapi tidak sampai tamat atau lulus kemudian
mereka berhenti atau keluar dari sekolah. Hal itu bisa disebabkan oleh berbagai
faktor yang bisa
disebabkan karena malu, malas, takut, sekedar ikut-ikutan dengan temannya atau
karena alasan lain sehingga mereka putus sekolah ditengah jalan atau keluar dan
tidak lagi masuk untuk selama-lamanya.
Anak
putus sekolah adalah keadaan dimana anak mengalami keterlantaran karena sikap
dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap
proses tumbuh kembang anak tanpa memperhatikan hak – hak anak untuk mendapatkan
pendidikan yang layak.
Dalam Undang – Undang
nomor 4 tahun 1979, anak terlantar diartikan sebagai anak yang orang tuanya
karena suatu sebab, tidak mampu memenuhi kebutuhan anak sehingga anak menjadi
terlantar.Sedangkan menurut Undang – Undang nomor 23 tahun 2002 bahwa anak
terlantar yakni anak yang kebutuhannya tidak terpenuhi secara wajar, baik
kebutuhan fisik, mental, spiritual maupun social. Pengertian lainnya menurut
Departemen Pendidikan di Amerika Serikat (MC Millen Kaufman, dan Whitener,
1996) mendefinisikan bahwa anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat
menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak
tamat menyelesaikan program belajarnya.
Anak putus sekolah ialah
anak yang dimana seharusnya ia mengecap pendidikan atau duduk dibangku sekolah
akan tetapi dikarenakan berbagai faktor ia tidak dapat menyelesaikan program
belajarnya hingga tuntas. Anak-anak putus sekolah seharusnya mendapat perhatian
besar dari pemerintah dikarenakan mereka adalah generasi penerus bangsa, yang
seharusnya mendapatkan hak bersekolah dan dimana kemampuan mereka dan keinginan
mereka dikembangkan agar mereka dapat hidup sejahtera dikemudian hari.
SOLUSI
Persoalan putus sekolah
merupakan tantangan bagi pekerja sosial. Data dari susenas menyebutkan ratusan
ribu pelajar terancam putus sekolah, mereka berasal dari keluarga miskin. Anak
usia sekolah dari keluarga miskin inilah yang potensial keluar dari bangku
sekolah sebelum mengantongi ijazah.
Secara umum cara
pelayanan anak-anak yang dikategorikan bermasalah seperti anak putus sekolah,
anak terlantar, anak jalanan, dan anak dalam situasi khusus, dapat dilakukan
melalui 2 sistem pelayanan sosial, yakni sistem panti dan sistem luar panti.
·
Sistem pelayanan dalam panti
Cara pelayanan sosial dilakukan
melalui instutisi pemerintah maupun swasta dengan memberi pelayanan guna
memenuhi seluruh kebutuhan dasar baik fisik maupun psikisnya meliputi pelayanan
makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, rekreasi, kesehatan dan
sebagianya. Pelayanan ini diarahkan pada terjadinya proses pembelajran
sebagaimana layaknya pendidikan dalam keluarga yang utuh karena panti merupakan
institusi yang berperan sebagai keluarga pengganti.
·
Sistem pelayanan diluar panti
Pelayanan ini menitik beratkan pada
cara pelayanan sosial yang berbasiskan masyarakat bagi anak diluar panti yang
bersifat mengganti, memperkuat, dan melengkapi pelayanan sistem panti.
Khususnya bagi anak-anak jalanan yang bentuk pelayanannya seperti rumah singgah
dan mobil sahabat anak. KESIMPULAN
Penyebab timbulnya fenomena anak jalanan di kota-kota jika dilihat dari faktor makro dikarenakan strategi pembangunan yang lebih mengarah pada industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi yang berpusat disekitar kota. Hal ini menimbulkan berbagai ketimpangan ekonomi baik antar daerah maupun antar pelaku ekonomi. (Saripudin:154, 2010). Pertumbuhan ekonomi dikota dan desa sangat mencolok pebedaannnya, dimana pada masyarakat kota terlihat lebih maju, modern dan terlihat lebih menguntungkan dalam hal ekonomi. Karena hal ini banyak masyarakat dari desa yang berdatangan dalam skala besar ke kota-kota besar, dalam rangka mengadu nasib karena kota dianggap lebih menguntungkan dan menjanjikan bagi masa depan mereka secara individu maupun keluarga.
Untuk
memperoleh pekerjaan yang baik dikota, pendidikan merupakan faktor utama yang
diperhitungkan. Akan tetapi orang-orang yang datang dari desa ini kebanyakan
merupakan orang yang tidak memiliki pendidikan yang cukup dan memadai, mimpi
yang diangankan pun menjadi hal yang sangat sulit untuk tercapai bagi mereka.
Akibatnya, mereka tinggal di perkampungan yang kumuh di lingkungan masyarakat
miskin. Sebagian dari mereka enggan kembali ke kampung karena rasa malu yang
kuat, takut orang di kampungnya mengejeknya. Sehingga mereka tetap tinggal di
kota dalam perkampungan kumuh sampai mereka berkeluarga yang kemudian hal ini
berperan besar dalam tumbuhnya anak jalanan.
Faktor atau penyebab putusnya sekolah bukan saja hanya faktor perekonomoian tetapi sosok orang tua pula harus menonjol dan memperhatikan pada anaknya dan pendidikan anak terutama, karena anak butuh sekali figue orang tua yang benar-benar memperhatikan keadaan anaknya, pendidikan serta kepribadian anaknya karena orang tua lah yang mengetahui sifat dan karakter anak-anaknya bukan orang lain.
sekian..
semoga bermanfaat pemirsa yang membaca blog saya :)
semangat para generasi muda..
